Sabtu, 25 Juni 2011

Chapter 5-1


Vhizka
(one beautiful pieces of my life)



Hari-hari kembali seperti biasa. Apalagi saat ini aku punya kos sendiri plus roommate. Yah boleh dibilang roommate-ku ini anaknya rada nyleneh juga. Dilihat dari cara ngomong jelas, lain itu aku ngrasa dia punya good personality. Lalu untuk sedikit mengubur rasa suka yang teramat dalam pada Tutut tapi belum bisa tersalurkan, aku agak konsen pada kuliah. Dan juga lebih mendekat pada temen-temen. Tapi aku belum bisa berbagi kesedihan ini pada mereka. Masih canggung dan juga malu. Suatu hari aku satu kelas bareng Zayan cs, orang yang pertama aku cari adalah Sita. Setelah dulu pernah ngobrol panjang waktu perjalanan Makrab, aku merasa dekat aja ma dia. Sambil dengerin dosen sesekali kita ngobrol. Hal-hal yang kita obrolin macam-macam, dari hal yang ga penting sampe omongan berat. Dan satu hal yang paling aku suka dari Sita adalah saat mengeluarkan argumennya tak pernah lepas dari dasar-dasar agama. Aku benar-benar kagum, di usianya yang masih belia dia sudah sedikit banyak menguasai dasar-dasar agama. Dan karena hal itulah kini aku sering panggil dia dengan sebutan “Bu Ustadz”. Setelah aku dan Sita agak akrab, aku dengan lugunya memintanya untuk dicarikan seorang cewe. Dengan pandangan heran, dia mengiyakan permintaanku. Secara menurutku pandangan orang “beragama” pasti lebih baik dari pandangan orang biasa. (masa sie……..?)

Ada sekitar seminggu aku menunggu kabar dari Bu Ustadz. Sampai sewaktu aku bertemu dengan dia suatu hari. Kebetulan aku dan Bu Ustadz kebanyakan beda kelas. Nah pas ketemu aku diperlihatkan seorang cewe temen satu kelasnya. Cewe yang dari jauh terlihat begitu manis, berjacket warna coklat, bercelana jins, bersepatu warna putih biru, menggendong ransel warna biru juga. Dari rambut, model bisaa aja, panjang dikuncir dan agak bergelombang. Tinggi 160-an senti. Semakin aku dekati, semakin jelas aura keibuan terpancar dari cewe ini. Sekarang aku bisa lihat dengan jelas wajah manisnya. Mata yang agak sayu tapi terasa teduh, bulu mata lentik, wajah oval, halus tanpa bantuan bedak dan perona pipi, lalu satu buah tahi lalat kecil didekat hidung sebelah kanan sebagai pemanis. Dari cara berbusananya yang sederhana semakin menarik hatiku untuk lebih jauh mengenalnya. Lalu saat jarak semakin dekat, Bu Ustadz ngenalin aku padanya. Pertama dia agak bingung juga. Sambil bersalaman terucap nama dari cewe ini. “Vhizka”. Akhirnya, tau juga nama cewe almost perfect ini. Perasaanku saat itu benar-benar hepi. Semakin sempitlah ruang hatiku buat Tutut (tapi tetep aja ga bisa lupa). Sama saat aku pertama kali liat Tutut, perasaan itu datang lagi. Kalo orang sono boleh bilang, I’m falling in love at first sight. Tapi sebisa mungkin kututupi rasa itu. Malu aja, masa baru kenal langsung ini itu. Abis perkenalan, bisaalah, we just chat to know each others. Ringan aja, seputar kampus, hobi dan gossip yang lagi happening. Tambahan lagi about dia, pas dia lagi tersenyum, dikiri dan kanan sudut pipinya tercipta lesung pipi yang semakin menambah ayu cewe ini. Ngobrol ma cewe ini emang bikin lupa waktu. Entah apa cuma perasaanku aja, aku merasa bisa langsung “Klik” aja ma dia. Ngobrol kita baru terhenti saat dia tersadar kalo dia masih punya janji dengan seseorang. Setelah berpamitan dan juga berjanji lain kali mau ngobrol lagi dengan ku, dia beranjak pergi. Kutatap terus dirinya sampai dia menghilang dibalik kerumunan mahasiswa kampus biru yang telah selesai kuliah. Bu Ustadz menepuk pundakku. Menyadarkan anganku yang tadi sesaat melayang mengikuti Vhizka meninggalkan kampus biru. Agak terkejut, kupasang muka sewot ke Bu Ustadz. Bu Ustadz malah membalas dengan tersenyum sambil bertanya kesanku soal Vhizka barusan. Langsung aja dengan muka berseri, aku berterima kasih pada Bu Ustadz. Agak bingung dia. Terima kasih soal apa? Aku jawab kalo ibu ga salah ngenalin ma Vhizka. Vhizka bener-bener udah nyuri hati aku, begitu jawabku pada Bu Ustadz. Tersenyum simpul seraya berpesan semoga aku bisa dapetin Vhizka dan dibumbuhi beberapa do’a yang tulus. Aku hanya balas mengamini. Setelah itu kita berdua meninggalkan kampus biru.


Masih ada lanjutannya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar