Jumat, 08 Juli 2011

Chapter 5-2

Sesampainya dikos, aku belum bisa nglupain Vhizka. Wajahnya, cara ngomongnya, pokoknya semuanyalah. Semakin dibayangkan semakin ingin ngobrol lagi dengannya. Jaka baru selesai mandi, dan heran melihat aku sedang senyum-senyum sendiri. Bertanya dangan mimik heran ada apa denganku? Kujawab aja, ga da papa. Tapi ternyata Tuhan belum sepenuhnya mengabulkan permintaanku. Hampir seminggu setelah perkenalan dengan Vhizka, aku belum juga bertemu lagi dengannya. Sampai suatu hari pas kelas olahraga aku bertemu lagi dengannya. Kuhampiri dan say hello. Dibales aja dengan agak dingin. Setelah ikut kelas olahraga aku tanya apa ada kelas lagi setelah ini. Dia jawab masih agak lama. Kebetulan masih pagi juga langsung aja aku ajak sarapan bareng. Eh ga taunya dia mengiyakan. Berdua kita jalan menuju kantin. Sampai disana kita pesen soto ayam. Sambil makan kita ngobrol lagi. Tapi aku rasa pertemuan kali ini ga begitu menyenangkan seperti saat pertama bertemu. Kulihat dia tidak begitu bersemangat untuk ngobrol. Seperti menyimpan sesuatu yang sangat berat. Selesai makan aku menawarkan untuk mentraktir dia. Dengan agak berat hati ingin menolak traktiranku. Kata dia, kamu kan jauh dari rumah, kok berani nraktir orang. Jangan-jangan abis nraktir aku, kamu ga makan dua hari, setengah bercanda dia berkata kepadaku. Aku yakinkan dia kalo aku yang ngajak makan harus tanggung jawab bayarin. Akhirnya dia pasrah dengan keputusanku. Sesudah itu kita balik lagi kekampus. Bu Ustadz kebetulan melihat kita berdua jalan bareng. Sambil bercanda dia menggoda kami. Aku sie cuma senyum-senyum bangga, tapi Vhizka adem ayem aja. Dalam hati aku, beribu pertanyaan menghampiri. Mana Vhizka yang dulu ceria? Mana Vhizka yang ramah? Baru beberapa hari ga ketemu kenapa bisa berubah seperti ini? Kebetulan kelas akan dimulai. Karena kelas kita beda, aku berpamitan pada Bu Ustadz dan Vhizka. Saat kuliah aku ga bisa konsen sepenuhnya. Pikiranku terbagi antara dengerin penjelasan dosen dan mikirin perubahan Vhizka. Kelas pun berakhir. Aku pulang kekos-kosan dengan perasaan ga menentu. Beberapa hari kemudian aku masih saja sulit untuk bertemu lagi dengan Vhizka. Kucoba menghubungi Bu Ustadz untuk minta info darinya. Langsung aku cari posisi Bu Ustadz setelah sebelumnya aku sms dirinya. Bertanya dimana dia sekarang. Dihalaman kampus biru aku lihat Bu Ustadz dan beberapa temen dari kelasnya sedang duduk-duduk. Kutarik aja Bu Ustadz. Agak kaget, dia bertanya, ada apa sie? Langsung aja aku cerita tentang perubahan Vhizka. Setelah mendengarkan semua keluhan ku, Bu Ustadz gantian ngomong. Dengan agak tertahan dia berkata kalo aku kayanya ga ada kesempatan untuk lebih jauh lagi deketin Vhizka.
Aku bertanya, kenapa? Karena dia udah punya pacar! Kata Bu Ustadz dengan nada agak tinggi, agar aku tersadar dari mimpi untuk bisa miliki Vhizka. Setengah ga percaya, aku kembali bertanya, info ini dapet dari siapa? Dari aku sendiri, kemarin aku lihat Vhizka pulang dijemput oleh seorang cowo. Setelah itu aku juga tanya sendiri pada Vhizka tentang cowo itu, dan Vhizka menjawab kalo itu adalah pacar resminya, begitu penjelasan Bu Ustadz. Bagai tersambar kereta, badan dan hatiku hancur lagi. Tapi untuk yang satu ini aku ga ingin mudah nyerah (masak harus kalah lagi?). Aku harus bisa dapetin Vhizka. Ga perduli dah punya pacar resmi sekalipun, pikirku saat itu. Baru pacar kan? Masih bisa putus, hal-hal seperti itulah yang lalu sering berputar-putar diotakku. Suatu kesempatan aku bertemu dengan Vhizka. Aku say hello aja, dibales sie ma dia. Tapi dengan ekspresi yang datar dan agak dingin. Langsung aja tanpa babibu aku bertanya soal pacar resminya. Beneran kamu dah punya pacar? Aku tanya ma Vhizka. Iya, emangnya kenapa? Jawabnya. Anak mana sie? Pasti kalah keren ma aku, kucoba sedikit merayunya. Pandangannya padaku agak berubah. Kenapa sie tiba-tiba kamu pengen tahu soal pribadiku? Toh ga ada hubungannya ma kamu kan? Dia bales bertanya padaku. Ya emang ga ada hubungannya ma aku sie? Penasaran aja. Kucoba menetralisir keadaan yang mulai ga enak. Kamu ga perlu tahu! Kata Vhizka sambil berlari meninggalkan aku. Masih terheran-heran kutatap Vhizka menghilang dibalik tembok salah satu kelas. Sejak saat itulah aku mulai kehilangan jejak Vhizka, gadis manis yang bisa bikin aku merasa deg-degan dan merasakan nikmatnya cinta pada pandangan pertama setelah Tutut.
    Berhari-hari aku belum bertemu lagi dengan Vhizka. Hingga suatu hari aku bertemu Bu Ustadz. Langsung aja dia menghampiri aku. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia sampein ke aku. Sebelum itu dia bertanya tentang kabarku. Kujawab sekenanya aja. Aku masih ngambek aja ma Bu Ustadz, gara-gara masalah Vhizka. Dengan sedikit merayu dia menyuruhku agar ga usah sewot lagi. Dan dia juga menambahkan kalo dia punya info terbaru soal Vhizka. Langsung mukaku berubah menjadi berseri-seri. Pikirku saat itu moga-moga Vhizka putus dengan pacarnya. (jahat banget ya?) Lalu aku bersiap mendengarkan info dari Bu Ustadz. Sebelum dia bercerita, dia menyuruhku buat sabar dan belajar buat ikhlas. Aku agak bingung juga mendengar wanti-wanti Bu Ustadz ini. Kuturutin aja dan berharap agar dia segera bercerita. Setelah diem agak lama, kamu harus sabar ya, kata Bu Ustadz sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkannya padaku. Kaget bercampur perasaan ga enak lainnya, kuterima benda dari Bu Ustadz itu. Ternyata sebuah undangan pernikahan. Aku masih mengharap kalo undangan itu bukan undangan pernikahan Vhizka. Tapi ternyata memang sudah menjadi takdir, saat aku membuka undangan itu, tertulis We will marry soon : Vhizka with her beloved, D . K. Pedih banget rasa hatiku saat itu. Tuhan? Mengapa ini harus aku alami lagi? Kenapa aku harus karam lagi dalam lautan percintaan? Kenapa Tuhan? Lagi-lagi aku mengalami patah hati. Kenapa ya, aku ga pernah beruntung soal cinta? Saat aku tergoncang, kulihat selembar kertas lagi didalam undangan itu, tertuliskan namaku. Kubuka dan ternyata itu surat dari Vhizka buat aku. Didalamnya tertulis, maafkan aku. Dah nglakuin ini semua ke kamu. Bukan maksudku untuk nyakitin hatimu. Sebenernya aku juga tahu kalo selama ini kamu ada perasaan ato sesuatu ke aku. Tapi kamu datang agak sedikit terlambat. Kamu datang saat hatiku sudah terikat oleh hati yang lain. Walaupun sebenernya aku juga punya perasaan yang sama. Aku ga nyalahin takdir. Karena aku yakin semua ini sudah direncanakan sangat baik oleh Tuhan. Bukankah semua yang digariskan Tuhan pasti yang terbaik? Aku yakin suatu saat kamu pasti bisa dapet seorang yang jauh lebih baik dan sempurna daripada aku. Kadang Tuhan tidak memberi apa yang kita harapkan, tapi Dia memberi apa yang kita perlukan. Kadang kita sedih, kecewa, terluka tapi jauh diatas segalanya Dia sedang merajut yang terbaik dalam hidup kita. Kuharap kamu bener-bener bisa maafin aku, atas perubahan ku selama ini. Aku cuma ga ingin kamu lebih terluka. Ikhlaskan hatimu, dan ku do’akan semoga kamu segera menemukan cinta sejatimu.
   Paru-paruku terasa sangat sesak. Seakan tak ada lagi udara yang bisa terpompa. Nafasku terasa berat setelah ku baca surat itu. Bu Ustadz agak was-was juga melihat keadaanku saat itu. Ingin sekali saat itu aku menangis, tapi lagi-lagi aku ga menemukan satu alasan yang tepat untuk menangis. Bu Ustadz mencoba menghiburku. Tapi aku hanya bisa diam. Ditatapnya aku dalam-dalam dan tangannya memegang pundakku seraya berkata, tegarlah, ikhlaslah dan bahagialah untuk Vhizka. Serahkan semuanya pada Tuhan. Kita tahu Tuhanlah yang mampu membuatmu mampu tersenyum walaupun dalam keadaan bersedih. Dialah satu-satunya tempat bertahan ketika kamu merasa hendak menyerah. Dialah satu-satunya tempat untuk berdo’a ketika kamu kehabisan kata-kata. Dialah yang pantas dicintai sekalipun hatimu telah hancur berkali-kali. Dialah yang membuat kita tetap mengerti ketika tak satupun yang kelihatan memberi arti. Segalanya menjadi mungkin karena Tuhanlah yang memampukan kita.




Patah hati lagi? Kapan hepinya? Btw, masih ada lanjutannya loh....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar