Vhizka
(one beautiful pieces of my life)
Hari-hari kembali seperti biasa. Apalagi saat ini aku punya kos sendiri plus roommate. Yah boleh dibilang roommate-ku ini anaknya rada nyleneh juga. Dilihat dari cara ngomong jelas, lain itu aku ngrasa dia punya good personality. Lalu untuk sedikit mengubur rasa suka yang teramat dalam pada Tutut tapi belum bisa tersalurkan, aku agak konsen pada kuliah. Dan juga lebih mendekat pada temen-temen. Tapi aku belum bisa berbagi kesedihan ini pada mereka. Masih canggung dan juga malu. Suatu hari aku satu kelas bareng Zayan cs, orang yang pertama aku cari adalah Sita. Setelah dulu pernah ngobrol panjang waktu perjalanan Makrab, aku merasa dekat aja ma dia. Sambil dengerin dosen sesekali kita ngobrol. Hal-hal yang kita obrolin macam-macam, dari hal yang ga penting sampe omongan berat. Dan satu hal yang paling aku suka dari Sita adalah saat mengeluarkan argumennya tak pernah lepas dari dasar-dasar agama. Aku benar-benar kagum, di usianya yang masih belia dia sudah sedikit banyak menguasai dasar-dasar agama. Dan karena hal itulah kini aku sering panggil dia dengan sebutan “Bu Ustadz”. Setelah aku dan Sita agak akrab, aku dengan lugunya memintanya untuk dicarikan seorang cewe. Dengan pandangan heran, dia mengiyakan permintaanku. Secara menurutku pandangan orang “beragama” pasti lebih baik dari pandangan orang biasa. (masa sie……..?)
