Kamis, 11 Agustus 2011

Kalo teman berubah masihkah kita berteman?

Didunia ini ga ada yang stag.. semuanya bergerak dinamis. Yang membedakan hanya arah geraknya. Seperti halnya hubungan pertemanan. Kita pasti masih ingat waktu SD, SMP, SMA, Kuliah ato saat kita bertemu dengan seseorang dan menjadikannya seorang teman. Awalnya pastilah manis walo kadang ada beberapa malah diawali dengan kondisi yang tidak mengenakkan. Yang pasti, tidak semua teman akan terus menjadi teman dekat, ada kalanya mereka bergerak menjauh, lebih jauh, dan kadang malah menghilang bak ditelan bumi.Ada unkapan seorang teman sejati adalah teman yang tetep ada saat kondisi terburukmu, dan muncul juga saat bahagiamu. Namun seandainya kalian bertemu seorang seperti yang akan aku ceritakan ini, masihkan kalian menganggap dia teman?


Cerita ini berawal beberapa bulan yang lalu. Aku dan teman ini, sebut saja begitu, sudah kenal waktu masih muda. Waktu muda dulu kita tergolong akrab sebagai seorang teman. Hingga suatu hari saat kita tidak bisa bersama lagi hubungan pertemanan kita menjadi agak longgar. Bulan-bulan pertama setelah kita berpisah, kita masih sering berkomunikasi via sms, dan kadang saling bertelepon. Saat itu aku merasa dia adalah benar-benar seorang teman. Namun, beberapa bulan setelah itu keadaan mulai agak berubah. Frekuensi komunikasi kita makin menurun. Kebetulan saat itu aku juga sedang agak sibuk jadi tidak begitu sempat untuk menghubungi teman ini. Meskipun begitu saat aku ada waktu luang aku masih mencoba mengontak teman ini. Awalnya aku tak begitu curiga saat dia jarang balas smsku, atau saat dia terasa begitu berat mengangkat telponku. Namun lama kelamaan aku pun tersadar sendiri. Sampai pada suatu hari aku benar-benar tak bisa menghubunginya. Alamat rumah kami agak jauh, akan tetapi atas nama pertemanan akupun mencoba berkunjung. Setibanya aku disana aku tidak bertemu dengan teman ini, tetapi dari keluarganya aku bisa tau nomer yang bisa kau hubungi sekarang. Kebetulan waktu muda dulu aku pernah mampir ke rumah teman ini beberapa kali, jadi saat aku minta nomor telpon teman ini, keluarganya tidak menaruh rasa curiga sedikitpun kepadaku. Karena aku masih merasa berteman akupun mencoba menghubungi nomer baru teman ini tersebut. Setelah dapat menghubungi, rasanya ada yang berbeda. Sikapnya begitu dingin. Karena hal tersebut, akupun mengambil kesimpulan mungkin sekarang teman ini sudah tak ingin lagi berteman. Cukup lama juga aku dan teman ini tidak saling berkomunikasi. Hingga suatu hari ada seorang teman lama, yang aku dan teman ini dulu kenal, mengadakan sebuah acara, dan mengundang aku dan teman ini dan juga teman-teman lama kami untuk datang ke acara tersebut. Untuk pertama kalinya setelah lama kita tidak berkomunikasi akhirnya diacara tersebut, aku bisa berkomunikasi langsung dengan teman ini. Pertama melihatnya aku seakan tidak mengenalnya. Entah gara-gara pakaian ato pun riasan wajahnya yang membuat aku benar-benar tidak bisa mengenalnya, jika saja teman lamaku tidak menyapanya, aku masih berpikir kalo teman ini adalah seorang kenalan teman lamaku yang sedang mengadakan acara. Saat aku dapat kesempatan ngobrol dengannya, sikapnya pun tidak berubah seperti saat aku terakhir kalinya menelpon dirinya. Masih dingin. Karena aku merasa tidak enak dengan kondisi ini, aku mencoba bertanya apakah ada dari diriku yang membuat dirinya tidak nyaman? Dia hanya menjawab singkat tidak ada, hanya saja raut muka dan juga sikapnya berkata lain. Hal itu semakin terlihat jelas saat dirinya berbicara dengan teman yang saat ini satu lingkungan dengan dirinya. Wajahnya berseri dan juga sikapnya begitu hangat. Lalu aku saat itu menyadari, mungkin pertemananku dangan teman ini sudah berakhir.
         Satu tahun sejak kejadian itu, saat tengah malam, aku mendapat telpon dari teman ini. Saat aku angkat telponnya, dia menangis. Saat aku tanya apa yang memyebabkan dia menangis, dia bercerita kalo saat ini dia sedang sendiri. Bingung dan tidak tahu harus berbagi dengan siapa. karena merasa kasihan aku pun tidak bertanya lebih jauh lagi. Kemudian dia bercerita, saat ini kondisinya begitu buruk. Keluarganya bangkrut, rumahnya harus disita. Pokonya keadaannya begitu buruk. Mau tidak mau akupun kembali bersimpati kepada teman ini. Berbulan-bulan setelah telponnya yang terakhir, aku dan teman ini dekat kembali. Tidak hanya support yang aku berikan agar dia tidak merasa down namun kadang sedikit bantuan materi aku kadang juga berikan. Saat itu, dia mengatakan meminjam untuk kebutuhan ini dan itu. Karena tidak ingin membuatnya down lagi, aku memberikan saja tanpa merasa curiga, lagipula jumlahnya tidaklah begitu besar. Beberapa saat setelah dia meminjam, dia juga mengembalikan walaupun agak telat dari waktu yang dia janjikan. Saat dia meminjam lagi, dengan jumlah yang agak besar, aku pun tidak merasa curiga. Beberapa hari kemudian walaupun masih belum membayar, dia kembali meminjam lagi dengan jumlah yang lebih besar. Aku agak curiga juga dengan jumlahnya yang agak besar itu. Lalu aku tanya dia untuk apa, jawabnya untuk melunasi hutangnya yang lain. Karena merasa iba, aku pun lalu meminjaminya lagi.
Hari yang dia janjikan untuk membayar tiba, tapi dia belum juga menampakkan diri. Aku tidak ambil pusing karena kebetulan sedang tidak ada kebutuhan mendesak dan juga karena waktu yang lalu dia sering telat bayar. Namun saat aku bener-bener butuh, kucoba untuk mengambil apa yang harusnya aku punya, teman ini malah menghidar. Sms tidak bales, telpon malah di reject? Sumpah aku sekarang jadi bingung. Apa yang harus aku lakukan. Haruskah aku masih mengangapnya teman? Tapi kalo teman kok kondisinya seperti ini? Aku bukan menganggap kalo berteman harus berdasr materi, hanya saja itu sebagai salah satu hal yang bikin aku bungung. Hal lain yang kadang bikin ga enak dari teman ini adalah saat dia dalam kondisi happy, dia lebih sering menghabiskan waktunya dengan para temen yang satu lingkupnya. Sedang pas dalam kondisi sedih, drop dan ga ada semangat, dia larinya ke aku. Sampai kadang berjam-jam menelponku hanya untuk mencurhatkan semua masalahnya, yang notabene aku sendiri ga tau duduk permasalahannya. Yang bikin ga nyaman lagi, kadang saat dia sedang dalam kondisi seperti itu, dalam sehari dia bisa menelpon hingga puluhan kali.  Pokoknya dia seakan nularin badmoodnya ke aku. dan akhirnya aku pun jadi badmood seharian ini.......
        

 Guys.... sorry kalo aku jadi curhat ga jelas kaya gini. Siapa tahu kalian semua pernah mengalami trobel kaya aku gini dan punya solusinya. Kalo belum pernah, aku sangat berterima kasih sekali jika kalian mau men-share masalah ini ke orang yang berkompeten. Sumpah aku lagi bingung banget gimana haru menghadapi teman ini.


10 komentar:

  1. kejaidiannya msh berlanjut smpe skrg, apa ini cm masa lalu pak?

    gini,,,nek mnrtku:
    aku g tw brp jmlh materimu yg dia bwa..tp mnrt pandanganku, mgkn ini jalan Allah agar km beramal, mgkn km krg amal..(skali lg 'mungkin')
    nah, jadi jalan yang paling aman mnurut kaedah Islam adalah "ikhlas"...dan jika dia balik lagi trs mau mlakukan hal yg sama, tolak dengan halus tnpa ngungkit masa lalu..




    "Sgala sesuatu kalo dihubungkan dengan rencana Allah bakalan ada hikmahnya"


    maap ya pak,,,cm ini saranku,,,^^

    SEMANGAT!!

    BalasHapus
  2. pertama aku juga mikire gitu ang... tapi sing digowo lumayan jew(ibarate iso nggo tuku klambi botdo telung stel)... rodo abot nek kon ikhlas... kejadiane yo lagi entes-entes...
    eniwe, suwun wes dikei saran, trus aku penake pie karo teman ini ang? tetep berteman ato udahlah...? mosok saben ra penak ning gonanku, nek pas penak trus lali.... emang kancanan koyo ngunu ang?ra sehat wes kayae...

    BalasHapus
  3. bener jaremu..."rak sehat"...
    mnrtku nek wes dadi konco ki bakaln tetep konco sampe kapanpun..nanging nek konco ono salah kyo ngunu kui, wajib diilingke, nek konone gah diilingke, dewe g usah ngoyo, malah nambah duso...
    nek misal kui materi memang pgn mbalik, koe sabar trs nek pas de en mnghubungi sbisa mgkn saat itu juga koe golek info ttg kehidupane de en...nek g parani ae omah e..toh koe meh njipuk opo sing dadi hak mu og...omongke karo wong tuo ne sisan..tp sing alus...

    BalasHapus
  4. kadang ki yo sakke, soale keluargane ki bener-bener wes ora koyo mbien ang. ning yo kui, uripe kadang ijih standar mbien. uripe temen ini jare kancaku yo ngunu kui. enek duit, nonton, nongkrong, kadang subuh gek balik. tapi nek duike tipis, mlayu ning aku. sabar yo sabar ang, mumpung durung botdo..
    hehehehe... tego ra tego...

    BalasHapus
  5. ya brati sobo ae ning omahe...ngobrol karo wong tuo ne...tp ojo bermaksd nagih jg..ksh tau ortunya ttg anaknya...mgkn lbh baik pak...

    sabaaaarrr....

    BalasHapus
  6. aku jane pengen kasih saran....
    tp malah tibone dadi pengen dolan gonamu kro cah2 trus crito2 lengsung ek pak. kayake luwih enak...hahahaha

    BalasHapus
  7. oia pak... ling...
    jek do fb'nan?
    aku duwe id meneh. wkwkwk
    ning kancane jek andri tok.
    aku bingung ik yen karo fb. bingung dalam arti suka atau gak suka. nek kalian piye?

    BalasHapus
  8. fb mung nggo update page ae. dudu status. ojo lali like me on pesbuk yo Gus...
    iyo yo.. sui ra ngumpul..? kapan yo ngumpul? terakhir ngumpul ki pas wisudane awakmu kui ya?kui we minus mj karo inuk... wes angel golek ane cah-cah kui....

    BalasHapus
  9. @bagus...nek aku suka gus,,,soale banyak info ning kono, trs nambah konco, trs iso tetep komunikasi karo konco2...asal koe ogak terlalu menempatkan FB sebagai sesuatu yang sangat berpengaruh dlm hidupme..(wejyaaaan)

    @item...siapke komputermu pak...nek ak rono tak jebol...

    BalasHapus
  10. monggo ang, aku redi kapan ae... karang komputer jadul ngene owg...

    BalasHapus