Jumat, 06 Mei 2011

Chapter 3-1


MAKRAB




Aku mungkin adalah makhluk Tuhan paling bahagia saat ini. Gimana enggak? aku udah dapat kenalan ma cewe yang aku incer. Tapi  dirimu semua pasti kecewa ya… kok cewe yang katanya paling top, kok berjerawat, pake kacamata minus lagi! But inget bro, cantik ga cantiknya cewe tergantung selera. Dan satu hal yang paling penting saat mencintai seseorang harus ngikutin kata-kata mutiara dari temen aku sebagai berikut. “Love isn’t just given’ and taken’ love someone or how to lovin’ someone perfectly, but the pure love is how to look imperfect on someone else and make it perfect on our vision”. Kaya gitu deh nek ga salah (jadi kalo salah dimaklumin ya, ato ada yang mau ngebenerin?sok lah mangga..). Namanya juga nyontek (he..he..he). Hari-hari yang aku jalanin saat itu bak alam mimpi. Semua terasa indah. Walo kadang makan pagi cuma pake sayur dan tempe (apa hubungannya coba?). Dan yang pasti dengan adanya hal itu aku jadi rajin banget ngampus. Setelah acara ospek yang ga bermutu, masih ada satu kegiatan yang pasti dilaluin oleh para mahasiswa baru, udah pasti semua pernah denger singkatan yang satu ini. MAKRAB. Yap, kegiatan ini bernama makrab, yang kalo boleh dipanjangin menjadi MAlam keaKRABan. Jadi ini adalah sebuah kegiatan dimana semua mahasiswa baru plus beberapa senior yang ditunjuk sebagai panitia berkumpul disebuah tempat dan disana mereka boleh berakrab-akraban satu dengan yang lain (asyal banget ik..). Dan yang pasti ajang ini sering banget digunain para senior untuk lebih pdkt sama junior yang diincernya. Dan buat para mahasiswa baru ajang ini bisa menjadi perekat hubungan pertemanan. Makrab tahun ini dilaksanain hari Jum’at sore sampai Minggu siang. Tempatnya disebuah villa dikaki gunung sebelah pinggiran kota dimana kampus biru berada.
Sore sebelum berangkat untuk makrab, aku sudah prepare buat semuanya. Karena tempatnya dikaki gunung, pasti udaranya dingin banget. Jacket dan selimut, hal yang ga boleh kelupaan. Karena perginya bareng-bareng, aku ke kampusnya naik angkot. Sampai disana temen-temen udah banyak yang ngumpul. Semua berwajah ceria, kaya mo piknik aja. Padahal ga tau disana mo diapain ma para senior. Kulihat Tutut, masih tetep aja good looking. Hari itu dia pake kaos warna kuning, dengan celana jins, rambutnya tumben ga diiket ekor kuda seperti bisaanya tapi poninya ga ketinggalan trus sepatu kets warna putih menghiasi kaki-kakinya yang panjang. I think, dia mo pake apa aja tetep enak dimata(sorry bro, namanya juga lagi demen…). Buat basa-basi aja aku say hello kedia. Setelah itu aku langsung gabung ma Zayan cs. Selama aku kuliah ini aku deket banget ma Zayan cs. Andra dan Lira sudah dapet banyak temen baru, so aku jadi agak terabaikan. Finally, bus yang mo kita tumpangi dah dateng. Setelah semuanya naik, no more time, we have to go. Perjalanan menuju tempat makrab lumayan jauh juga. Selama perjalanan itu aku ngobrol dengan Sita. Dan aku baru tahu ternyata Sita ga sependiem yang aku kira. Kita sharing banyak hal. Sesekali ku perhatiin Tutut, kebetulan dia duduk 2 baris didepanku. Disampingnya ada seorang senior cowo, dengan penampilan yang agak beda. Dandanan ala harajuku, dengan potongan rambut Mohawk dicat warna emas. Haduh-haduh, kalo aku ngliatnya kok malah syerem tow… Kulihat dia dan Tutut sedang asyik ngobrol. Terbesit dalam dada sedikit rasa jealous, tapi aku bukan siapa-siapa? Anak-anak semua sudah asyik dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang ngobrol dengan temen sebelahnya, dengerin iPod, smsan ato bahkan ada yang tidur. Setelah perjalanan selama satu jam akhirnya kita sampai juga. Tempatnya asyik juga. Villanya megah, dengan model bangunan zaman-zaman pertengahan, halamannya luas banget dihiasi bunga warna-warni dan pohon cemara berdiri kokoh disekeliling villa. Dari salah satu sudut villa, kita dapat melihat kota tempat kampus biru berada, yang malam itu benar-benar apik berpendar oleh lampu kota. Setelah turun dari bus, aku bertemu Gisel dan Agandhi. Mereka berdua masih inget ma aku. Just say hello aja. Dan ga berapa lama Andra muncul dan langsung gabung dengan mereka berdua. Ada seorang cewe lagi tapi aku belum kenal. Dibelakang Andra, kulihat Lira yang sambil jalan asyik ngobrol dengan Joe. Kutinggalkan mereka semua. Aku bergegas masuk kevilla. Sesampainya didalam, bagian ruang tamu sudah penuh sesak. Setelah semua peserta makrab sudah masuk kedalam villa, para senior membagi antara cowo dengan cewe.

Setelah itu para senior mengantar grup cowo dan cewe kekamar masing-masing. 1 kamar berisi 4-5 orang. Per kamar sudah ditentuin oleh para senior. Aku kebagian satu kamar dengan Fathur, Zayan dan seorang lagi bernama Andi. Dia itu adalah ketua angkatan kami. Rambut agak gondrong lurus, tinggi 170-an senti, berkulit putih dan boleh dibilang baik lah. Setelah meletakkan barang-barang didalam kamar dan duduk sebentar diatas kasur, dari arah ruang makan terdengar pengumuman dari salah seorang senior, kalo waktu makan malam segera dimulai. Aku, Fathur, Zayan dan Andi segera menuju ruang makan. Anak-anak yang lain juga mulai bedatangan. Kebanyakan dari mereka belum berganti pakaian. Acara makan malem pun dimulai. Entah mengapa, kebanyakan temen-temenku saat itu berusaha untuk berakrab-akrab dengan para senior? Sambil makan aku ngobrol dengan Andi, dia bercerita tentang banyak hal. Seperti sebelum masuk kuliah, dia pernah kerja paruh waktu disalah satu restoran cepat saji dan juga tentang hobinya yang doyan main band. Sedang aku hanya bisa membalas ceritanya dengan joke-joke yang garing. Segaring perasaanku saat itu saat melihat Tutut masih saja berdekatan dengan senior yang tadi. Ga lama kemudian acara makan malam pun selesai. Acara berikutnya dilanjutkan besok pagi. Jadi kita semua boleh tidur setelah makan malam. Sebelum tidur aku menggosok gigi dulu. Didalam toilet aku bertanya-tanya ada apa antara Tutut dengan senior? Tapi tetep aja ga nemuin jawabannya. Daripada semakin bingung aku putuskan untuk segera tidur. Selain itu badan juga terasa capek setelah perjalanan tadi. Ternyata udara malam itu sesuai perkiraanku. Dingin banget sampai menembus tulang. Langsung aja kupakai jacketku plus ga ketinggalan selimut yang udah aku bawa. Dan terbukti bisa melindungi dari dingin. Aku pun terlelap.

Masih tetep bersambung......

4 komentar: